Sabtu, 12 November 2016

Pacu Jalur



Asal usul dan Perkembangan Pacu Jalur
Hasil gambar untuk gambar pacu jalur pada tempo dulu





Kuantan Singingi adalah sebuah daerah yang secara administrative termasuk dalam Provinsi Riau. Daerahnya banyak memiliki sungai. Kondisi geografis yang demikian, pada gilirannya membuat sebagian besar masyarakatnya memerlukan jalur sebagai alat transportasi. Kemudian, muncul jalur-jalur diberi ukiran indah, seperti ukiran kepala ular, buaya, elang, atau harimau, baik di bagian lambung maupun selembayungnya. Selain itu, ditambah lagi dengan perlengkapan payung, tali temali, selendang, tiang tengah (gulang-gulang) serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri). Perubahan tersebut sekaligus menandai perkembangan fungsi jalur menjadi tidak sekedar Alat Angkut, namun juga menunjukkan identitas sosial. Sebab, hanya penguasa wilayah, bangsawan, dan datuk-datuk saja yang mengendarai jalur berhias itu. Perkembangan selanjutnya (kurang lebih 100 tahun kemudian), jalur tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi dan simbol status sosial seseorang, tetapi di adu kecepatannya melalui sebuah lomba. Dan, lomba itu oleh masyarakat setempat menyebutnya sebagai lomba Pacu Jalur.
Pada awalnya pacu jalur diselenggarakan di kampung-kampung di sepanjang Sungai Kuantan untuk memperingati hari besar Islam, seperti Maulid Nabi SAW, Idul Fitri, atau Tahun Baru 1 Muharam. Ketika itu setiap perlombaan tidak selalu diikuti dengan pemberian hadiah. Artinya, ada kampung yang menyediakan hadiah dan ada yang tidak menyediakannya.

 Lomba yang tidak menyediakan hadiah diakhiri dengan acara makan bersama. Adapun jenis makanannya adalah makanan tradisional setempat, seperti: konji, godok, lopek, paniaran, lida kambing, dan buah golek. Sedangkan, lomba yang berhadiah, penyelenggara mesti menyediakan empat buah marewa yang ukurannya berbeda-beda. Juara I memperoleh  ukuran yang besar dan Juara IV memperoleh ukuran yang paling kecil. Namun, dewasa ini hadiah tidak lagi berupa marewa tetapi berupa hewan ternak seperti sapi, kerbau atau kambing atau hadiah dalam betuk lainnya seperti uang pembinaan dan tonggol Juara.
 
Ketika Belanda mulai memasuki daerah Riau (Sekitar tahun 1905), tepatnya di kawasan yang sekarang menjadi Kota Teluk Kuantan, mereka memanfaatkan Pacu Jalur dalam merayakan hari ulang tahun Ratu Wihelmina yang jatuh pada setiap pada tanggal 31 Agustus. Akibatnya, pacu jalur tidak lagi dirayakan pada hari-hari raya umat Islam. Penduduk Teluk Kuantan malah menganggap setiap perayaan Hari Ulang Tahun (HUT)  Ratu Wilhelmina itu sebagai datangnya tahun baru. Oleh karena itu, sampai saat ini masih ada yang menyebut kegiatan Pacu Jalur sebagai Pacu Tambaru. Kegiatan Pacu Jalur sempat terhenti di zaman penjajahan Jepang. Namun, pada masa kemerdekaan Pacu Jalur diadakan kembali secara rutin untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus.

Pada  zaman sekarang ini Pacu Jalur di Gelanggang Pacu Jalur Tepian Narosa dilaksanakan pada setiap tanggal 25 Agustus – 28 Agustus 2016. Pacu Jalur sekarang ini dilaksanakan untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Sekarang Pacu Jalur menjadi objek wisata terkenal di Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Pacu Jalur merupakan bagian budaya tradisional yang dikenal di seluruh Indonesia.

Sekarang anda tau tentang Sejarah Pacu Jalur dan asal usulnya. Semoga ringkasan sejarah pacu jalur ini dapat bermanfaat bagi anda yang telah membacanya.